29 Agustus 2010

Pahlawan tak Harus Berperang


Siang yang panas dan terik, rasa gerah seakan-akan enggan untuk meninggalkan sebuah kelas. Tepatnya lagi kelas II SD SukaTani. Untung saja seorang guru yang amat mereka senangi saat itu yang tengah mengajar. Setelah sekian lama menerangkan tentang kepahlawanan Pangeran Diponegoro, Bu Widya, guru sejarah itu bertanya. “Anak-anak, siapa diantara kalian semua yang ingin menjadi pahlawan seperti Pangeran Diponegoro ?” Tanya Bu Widya, “Saya bu” jawab Ali yang berpostur tubuh kecil itu sambil mengangkat tangannya. Tiba-tiba suasana kelas yang hening seperti di kuburan itu menjadi ribut seperti suasana orang yang panik karena ledakan bom. “Ha…….ha……..ha…….ha……” tawa anak-anak. “Mana mungkin kamu bisa menjadi pahlawan, apakah kamu sanggup untuk berperang ?, sedangkan naik sepeda saja kamu belum mahir” ejek si Robi.
“Robi, kamu tidak boleh begitu, walau bagaimanapun juga Ali tetap teman kalian” kata bu Widya dengan penuh lemah lembut, “Dan satu hal lagi yang harus kalian ketahui bersama, pahlawan itu tidaklah harus orang yang selalu berperang, pahlawan juga dapat diartikan sebagai orang yang mengharumkan nama sekolah, daerah, bahkan bangsa dan negara, contohnya saja para atlet kita yang bertanding di Olimpiade Internasional, jika mereka berhasil menang, maka nama negara kita akan semakin dikenal oleh Negara-negara lain di dunia” kata bu Widya menambahkan lagi.
Kringggg……kringggg…..Bel pulang sekolah yang ditunggu-tunggu itu pun akhirnya mau bersuara juga. Dan dalam sekejap suasana SD itu pun menjadi sepi, sunyi dan senyap bagaikan sebuah bangunan yang sudah lama di tinggalkan penghuninya. Ali yang dengan pikiran bercampur aduk karena memikirkan perkataan teman-temannya tadi, mengayuh sepeda kesayangannya dengan pelan. Tiba-tiba ia kaget dan spontan mengerem sepedanya, sehingga ia hampir jatuh karena kaget. Rupanya ia hampir saja melindas seorang pria paruh baya yang tampaknya menjadi korban tabrak lari. Ali pun segera turun dari sepedanya untuk memeriksa keadaan orang tersebut, tak lama kemudian ia beranjak pergi bermaksud mencari pertolongan.
Tapi tiba-tiba, sebuah tangan yang berlumuran darah memegang kakinya yang mungil, seakan-akan melarangnya untuk pergi meninggalkan dirinya seorang di tempat yang sesepi itu. “Ttttoooollllllonggg sssaayya dddikk, sssaayya ssuuddddaahhh tttiddaaakkk kkuat laggi” kata orang yang menjadi korban tabrak lari itu dengan susah payah, dan setelah mengatakan itu dia pun jatuh pingsan. Ali pun semakin kebingungan di buatnya, ditambah lagi ia merasa lapar dan sangat capai sekali. Akhirnya dengan kebulatan tekad hatinya, ia pun segara mendudukkan sang korban itu ke boncengan sepedanya, walaupun dengan susah payah akhirnya ia berhasil juga, kemudian ia berusaha mengyauh sepeda dengan sisa tenaga terakhirnya , dan setelah tiga puluh menit berlalu akhirnya ia sampai juga ke Rumah sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, sang korban pun segera di bawa ke ruang UGD, belum sempat sang dokter mengucapkan terimaksih, Ali pun kemudian jatuh pingsan, sehingga ia juga harus mendapatkan perawatan.
Saat ia terbangun, dia melihat kedua orangtuanya tengah duduk menungguinya yang pingsan semalaman. “Kamu sudah sadar nak ?” Tanya ibunya, “Sudah bu” jawab Ali. Bu bagaimana keadaan orang yang Ali tolong bu, apakah dia baik-baik saja ?” Tanya Ali lagi. “Dia baik-baik saja” jawab seorang Dokter yang tiba-tiba muncul dengan pakain kebesarannya. “Apakah bapak dan ibu orang tua Ali ?” Tanya dokter. “Ya dok, ada apa ya ?” Tanya bapak nya Ali dengan sedikit cemas. “Begini Pak, Ali sudah di perbolehkan untuk pulang, kemarin dia pingsan karena maag nya kambuh dan dehidrasi, tapi sekarang sudah tidak apa-apa” jawab sang Dokter menjelaskan. “baiklah Dok, kalau begitu kami ucapkan terimakasih banyak” kata ibu Ali. “Ya sama-sama, itu sudah kewajiban saya untuk menolong sesama” balas sang dokter.
Tak terasa satu bulan pun berlalu, dan Ali pun sudah melupakan kejadian itu. Sampai suatu hari tepatnya hari senin saat upacara, sekolah mereka kedatangan Kepala Desa SukaTani dan JatiBudi, yang diketahui selama ini bahwa kedua Desa itu sedang terlibat konflik. Setelah selesai upacara, Kepala Desa Sukatani yang bernama Pak Bambang memberikan kata sambutan, “Anak-anak sekalian, bapak merasa sangat bangga sekali dengan sekolah ini , terutama kepada Ali anak kelas II SD ini. sebulan yang lalu, Ali dengan sikap ksatria mau menolong Joni, anak bapak Supriadi selaku Kepala Desa JatiBudi, walaupun dia kecapaian dan kelaparan terlebih lagi dia juga belum mengenal siapa orang yang ditolongnya, tapi semuanya itu diabaikan karena rasa kemanusiaan yang tinggi.” Kata pak Bambang menjelaskan panjang lebar.
“Dan yang paling penting lagi, karena atas sikap kepahlawanan Ali membuat para pemuda-pemuda masyarakat desa Sukatani dan desa Jatibudi sepakat untuk menghentikan pertikaian yang selama ini terjadi, mereka sadar bahwa antara kedua desa ini saling membutuhkan, terbukti dengan anak saya yang kecelakaan ternyata yang menolong adalah warga desa Sukatani, bukannya dari desa Jatibudi. Dan atas jasa dari sang pahlawan kita Ali saya pribadi akan memberikan bantuan beasiswa kepada murid-murid yang kurang mampu agar dapat melanjutkan sekolahnya hingga selesai” kata pak Supriadi menambahkan.
“Dan saya sendiri akan menyumbangkan 20 unit Komputer yang disertai dengan jaringan internet agar sekolah ini tidak ketinggalan dari sekolah yang lainnya, dan saya mohon agar Ali datang kemari” kata pak Bambang lagi. Maka Ali pun dengan perasaan haru datang memenuhi permintaan pak Bambang tersebut, setelah sampai ditempat yang dituju ia pun menyalami kedua Kepala Desa tersebut, plok……plook…..plook… serentak seluruh murid murid memberikan tepuk tangan yang meriah, “hidup Ali” teriak salah seorang murid kelas V, “Hidup pahlawan kita” kata Robi yang ternyata sudah sadar arti kepahlawanan sesungguhnya. Yang kemudian diikuti oleh para murid-murid lainnya. Suasana saat itu sangat ramai, ada yang menagis bahagia, tertawa dan segala macam ekspresi wajah yang ditunjukkan yang menggambarkan kegembiraan yang tak bisa diunkapkan dengan kata-kata itu.
Setelah upacara selesai, Robi menghampiri Ali, “Ali ma’afkan saya, saya sudah mengejek kamu kemarin dan mengatakan bahwa kamu tidak pantas untuk menjadi pahlawan, dan ternyata memang kamu lah pahlawan itu dan ternyata kamu bukan hanya pahlawan bagi sekolah saja, tapi kamu juga pahlawan bagi desa kita” kata Robi. “Ah…..sudahlah Rob, aku sudah tidak memikirkannya lagi.” Kata Ali. “Kamu memang baik sekali Li, terimaksih ya” kata Robi menambahkan lagi. “Ya sama-sama, siapa dulu dong,,,,,,,Ali” kata Ali lagi.
Kemudian mereka pun berjabatan tangan sebagai tanda persahabatan. Pahlawan tak harus berperang, kalimat itu terdengar sangat merdu sekali di telinga mereka berdua.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pahlawan tak Harus Berperang

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih telah meninggalkan Komentar di Didit Blog | Silahkan berkomentar dengan bebas, tidak mengandung SARA | komentar dengan link HIDUP akan dihapus | Terimakasih ^_^